Muhadjir Effendy Dorong BSM Jadi Teladan Ekonomi Muhammadiyah

KabarPurbalingga.com – Transformasi BPR Matahari Artadaya menjadi BPR Syariah Matahari (BSM) mendapat perhatian serius dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Menurutnya, kehadiran BSM harus menjadi contoh nyata bagi lebih dari seratus BPR yang berafiliasi dengan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

“Sebagian besar BPR kita belum sehat. Karena itu, BSM harus tampil sebagai role model,” tegas Muhadjir saat peluncuran BSM di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Kamis (11/9/2025).

Muhadjir menekankan, pembangunan pilar ekonomi Muhammadiyah sejajar dengan pendidikan dan kesehatan sebenarnya sudah diputuskan sejak Muktamar 2014 di Makassar. Namun, dalam perjalanannya, perkembangan pilar ekonomi berjalan lambat, apalagi sempat terkendala pandemi Covid-19.

Padahal, kata dia, KH Ahmad Dahlan sudah menaruh perhatian besar pada ekonomi sejak awal. Dua putranya bahkan dikirim ke luar negeri untuk belajar, salah satunya sukses menjadi pelaku industri halal berpengaruh di Thailand. Sejarah itu, menurut Muhadjir, membuktikan bahwa Muhammadiyah sejak awal punya DNA kewirausahaan.

Namun setelah kemerdekaan, arah itu meredup. Banyak kader Muhammadiyah yang lebih memilih jalur birokrasi ketimbang berbisnis, hingga organisasi semakin birokratis dan struktural. Kini, kesadaran baru mulai tumbuh bahwa ekonomi perlu diperkuat kembali. “Kita ingin mengembalikan jati diri Muhammadiyah sebagai organisasi pedagang,” ujarnya.

Ekosistem Syariah yang Seimbang

Sebagai Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Muhadjir juga menyoroti pentingnya ekosistem perbankan syariah yang sehat. Ia menegaskan, BSI sebagai bank terbesar tidak boleh bersaing secara tidak sehat dengan BPR Syariah.

“BSI jangan jadi predator. Biarkan BSI fokus ke sektor wholesale dan korporasi, sementara BPR Syariah melayani mikro dan kecil,” jelasnya.

Ia menambahkan, meski literasi keuangan syariah di Indonesia sudah 43 persen, inklusi baru 13 persen. Dengan mayoritas penduduk Muslim, potensi pengembangan masih sangat besar.

BSI sendiri, kata Muhadjir, menghadapi tantangan serius, terutama di bidang teknologi informasi. Sistem yang digunakan masih peninggalan Bank Mandiri dan kerap bermasalah. Selain itu, status BSI yang berada di bawah tiga bank induk dianggap membatasi gerak. “Kalau independen, BSI akan lebih leluasa bersaing dengan bank konvensional,” tandasnya.

Ke depan, BSI juga sedang menyiapkan kantor perwakilan di Jeddah untuk mendukung layanan haji. Muhadjir menilai langkah itu strategis, karena haji bisa menjadi pintu masuk pengembangan ekosistem ekonomi syariah Indonesia.

Posting Terkait