KabarPurbalingga.com – Tawa dan nyanyian riang menggema di Bumi Perkemahan Cibubur, Kamis (11/9/2025). Ratusan peserta World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 larut dalam kebersamaan ketika Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed, ikut menyanyikan lagu “Di Sini Senang, Di Sana Senang” bersama mereka.
WMSJ tahun ini digelar istimewa. Selain memperingati 100 tahun Pondok Modern Gontor yang menjadi penggagas, perhelatan jambore pramuka Muslim tingkat dunia ini juga diikuti lebih dari 15 ribu peserta dari berbagai negara. Dengan mengusung tema “We are Muslim—Civilized, United and Peaceful”, ajang ini meneguhkan semangat persaudaraan umat lintas bangsa.
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh hadirnya pemimpin yang tangguh, berkarakter, dan visioner. Semua itu, katanya, harus dipupuk sejak dini melalui pendidikan. Ia pun memberikan penghormatan khusus kepada Pondok Modern Gontor yang dianggap berhasil meletakkan dasar pesantren modern di Indonesia.
“Saya bukan alumni Gontor. Tapi sebagai pendidik, praktisi, dan menteri, saya berterima kasih. Dari Gontor lahir generasi yang kuat kepemimpinannya, mulia akhlaknya, tinggi ketakwaannya, serta cinta damai dan cinta tanah air,” ucap Mu’ti.
Namun, ia tak menutup mata terhadap tantangan besar generasi masa kini. Salah satunya adalah fenomena “generasi strawberry” — generasi yang kreatif dan menarik, tapi rapuh saat diterpa tekanan.
“Strawberry memang enak dilihat. Tapi kena panas sebentar saja, cepat layu. Begitu juga anak muda yang mudah sakit hati, gampang menyerah, dan cepat putus asa. Inilah fragile generation,” ujarnya mengingatkan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadikan WMSJ sebagai ruang untuk menempa mental generasi baru: dari rapuh menjadi tangguh, dari fragile menuju agile generation. Generasi yang adaptif, percaya diri, dan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.